Henlo mina-san, aku kembali lagi~ #wink
Well, mumpung aku baru aja kelar sarapan dan tenagaku masih full banget buat diperas, aku langsung berjibaku melanjutkan postinganku kemarin #ketawaalabapack2
Sebelumnya maapkeun kalo diriku yang jompo ini membutuhkan waktu satu tahun lamanya cuman buat ngeposting part II π
***********************************************************************************
Oke, setelah aku dinyatakan lulus di pilihan ketiga, tepatnya di fakultas keguruan (sadly at the timeπ₯²), hal pertama yang aku lakukan ialah menangis terharu sampe heboh pelukin adikku yang langsung ngelirik jijik ke arahku (kalo aja aku lagi ngga baper udah kuludahin muka dia, cih!!) kayak lagi ngeliat orang gila. Aku nangis itu wajar kok gais, karena anak-anak sekolahku kebanyakan gagal diterima di kampus pilihan mereka. Om-om tetanggaku aja sampe bilang gini ke bapakku...
T = Cak mano kabar si *sensor namaku*? diterimo apo idak?
B = Alhamdulillah diterimo. Baru maghrib tadi lah ngecek pengumumannyo.
T = Lulus di mano dio?
B = Di FKIP BK, pilihan ketigo dio.
T = Ooh dak papolah, yang penting tu lulus dulu.
(Btw, T itu tetanggaku dan B itu bapakku).
Besoknya, aku dan bapakku pagi-pagi sekali cus otw ke kampus cabang (ga bisa disebut dengan jelas karena mesti disensor) untuk melakukan registrasi ulang. Harapannya sih bisa dapet antrian paling awal, tapi apalah daya masih kalah pagi sama camaba lain...
Untung saja (untungnya masih ada untung π) aku masih kebagian kursi antrian di bawah tenda. Yes, para camaba yang ngantri ternyata ngga dikasih nomor antrian ges. Kita cuman disuruh duduk di kursi sesuai urutan datengnya aja. Jadi makin cepet kita dateng, yamaha semakin di depan makin depan pula kita duduk. Yang nasibnya bagus, masih kebagian duduk di bawah tenda, yang apes dikit dan banyak terpaksa berjemur di bawah matahari pagi.
Sembari menunggu giliran, aku liat banyak camaba yang dari dalam ruang registrasi memanggil orangtuanya untuk nyusul masuk ke dalam. Aku langsung diwanti-wanti untuk menjawab sesuai arahan bapakku jika ditanya soal penghasilan orangtua. Pokoknya, bapakku bilang aku harus memastikan agar beliau disuruh ikut masuk juga seperti camaba lain biar bisa nego ukt. Yaaa, aku mah cuman manut-manut wae karena aku masih hah heh hoh kaga ngerti #emotbatu
Ketika giliranku tiba, aku memasuki ruangan registrasi sendirian masih dengan otakku yang hah heh hoh. Petugas yang melayaniku adalah seorang bapak-bapak kisaran umur 50 tahunan, berambut putih ubanan, memakai kacamata (kalo ga salah), dan berkemeja biru lengan pendek. Saat itu aku disuruh mengisi formulir biodata mahasiswa sambil ditanya-tanyai mengenai pekerjaan orangtua dan penghasilannya perbulan. Begitu aku selesai menjawab pertanyaan bapak-bapak tadi dan mengisi formulirnya, kami berdua terdiam sejenak lalu beliau memersilahkanku untuk meninggalkan ruangan. Aku pun heran dan akhirnya terjadilah percakapan singkat di antara kami:
A = Ngga manggil orangtua saya pak?
B = Ngga perlu, kan kamu udah tanda tangan.
A = Maksudnya gimana pak?
B = Ini loh...
Bapak itu menunjuk tanda tanganku pada formulir yang telah kuisi. Ternyata ges... dengan bodohnya AKU SUDAH MENANDATANGANI FORMULIR PERSETUJUAN UKT TANPA NEGOSIASI DULU.
DENGAN BODOHNYA...
BODOHNYA...
AKU YANG BODOH INI..... πππππππ
Sumpah, aku yakin mukaku waktu itu pasti pucet pasi. Bapakku langsung ngomel panjang karena kesel. Kesel karena aku polos banget, dan kesel sama petugas yang udah manfaatin kepolosanku tadi. Ortuku bukannya ga mampu bayar, tapi kalo bisa dapet murah yaa kenapa ngga gitu loh π’
Asli ges, kejadian ini bener-bener jadi pelajaranku banget buat jadi orang yang lebih teliti lagi. Ini adalah pengalaman "dunia itu kejam" pertamaku. Ga pernah seumur idupku waktu itu aku ngerasa bodoh banget #nangisdramatis
Singkat cerita, setelah ngurusin ukt, tahapan selanjutnya ialah melakukan medical checkup dan membuat kartu mahasiswa serta pengambilan almamater di kampus induk. Waktu itu, tahapan ini berlangsung di bulan puasa. Bayangin aja, secapek apa aku yang ga bisa pake kendaraan sendiri, mesti pergi dari gedung satu ke gedung lain sambil jalan kaki di saat matahari lagi terik-teriknya dan sambil nahan haus karena puasa--di kampusku yang notabene adalah kampus TERLUAS di Asia Tenggara!
Udahlah imanku kecil gini, ditambah pula dikasih ujian nahan haus segitu parah. Ga usah ditanya lagi, endingnya aku batal puasa karena ga tahan #emotbatulagi
Tapi tapi tapiiii... di antara berbagai drama urusan camabaku ini, aku menemukan satu-satunya kenangan indah yang terjadi. Masih di waktu yang sama, terkait urusan pembuatan kartu mahasiswa. Kami disuruh membuka rekening baru untuk membuat kpm (kartu pengenal mahasiswa) karena kartu itu juga merangkap sebagai kartu atm. Sialnya aku ga bawa uang sama sekali, dan ortuku juga lagi ga di tempat karena mereka ada urusan lain. Jadilah aku bener-bener bingung mesti nyari uangnya dari mana.
Dan inilah kenangan indah yang kumaksud geees~ #badum-tssss
Di tengah kebingunganku, muncullah sesosok malaikat baik hati, cantik, ramah, sopan, santun, baik, cantik, ramah (udah weh udah!) dalam wujud seorang kating alias kakak tingkat yang bernama Bulan π
Sebetulnya ketua katingkulah yang pertama menyadari bahwa aku lagi galau soal uang. Dia mengarahkanku menuju posko bantuan khusus jurusanku dan menyarankanku untuk meminjam uang 50rb ke kating yang berjaga karena dia sendiri pun juga ga bawa uang π
Sumpah cuy, padahal kami sama sekali ngga kenal satu sama lain, tapi Kak Bulan satu-satunya yang mau meminjamiku uang 50rb! Dia ngga ada bilang nyuruh aku buat janji balikin uangnya, yang ada malah akunya yang inisiatif ngejamin uangnya bakal kubalikin :')
Nasib baik ga lama setelah itu ortuku dateng dan aku langsung bisa ngelunasin hutangku hari itu juga π
Sekian kisah drama camabaku gesss~
Part III akan kuceritakan tentang masa perkuliahanku π
Tidak ada komentar:
Posting Komentar